Khawatir Banjir dan Habitat Maleo Terancam, Camat Gumbasa dan LPKD Pakuli Utara Minta BWS Sulawesi III Normalisasi Sungai

SIGI — Kondisi aliran Sungai Gumbasa di wilayah Desa Pakuli Utara, Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi, mulai mengkhawatirkan. Tumpukan kayu dan material yang menyumbat sejumlah bagian infrastruktur sungai dinilai berpotensi memicu luapan air saat debit sungai meningkat.

Kondisi tersebut tidak hanya dikhawatirkan mengancam permukiman warga, tetapi juga habitat burung Maleo yang berada di kawasan konservasi berbasis masyarakat di Desa Pakuli Utara.

Kekhawatiran itu disampaikan Camat Gumbasa Afif Sunusi, S.Sos., M.M., bersama Ketua Lembaga Pengelola Konservasi Desa (LPKD) Pakuli Utara, Ringgi, setelah melakukan peninjauan langsung di kawasan aliran Sungai Gumbasa.

Lubang Sabodam Tertutup Kayu dan Material

Dari hasil peninjauan, sejumlah lubang pelimpah pada bangunan sabodam terlihat tertutup tumpukan kayu gelondongan dan material yang terbawa arus sungai.

Penumpukan material tersebut membuat aliran air berpotensi tidak berjalan optimal, terutama ketika debit sungai meningkat akibat hujan deras di wilayah hulu.

Kondisi pendangkalan dan material kayu yang menumpuk juga dinilai membutuhkan penanganan agar tidak berkembang menjadi penyumbatan yang lebih parah.

LIHAT JUGA  BILAS Menggema di Gumbasa, Afif Sunusi Ajak 7 Desa Rawat Lingkungan

Apabila debit air meningkat secara tiba-tiba, luapan sungai dikhawatirkan dapat mengarah ke kawasan permukiman warga di sekitar Pakuli Utara.

Habitat Maleo Ikut Terancam

Persoalan tersebut menjadi perhatian LPKD Pakuli Utara karena kawasan aliran Sungai Gumbasa berada tidak jauh dari nesting ground, atau lokasi bertelur alami burung Maleo yang dikelola masyarakat.

Kawasan tersebut selama ini menjadi bagian dari upaya konservasi berbasis masyarakat sekaligus memiliki potensi dikembangkan sebagai lokasi wisata edukasi dan wisata alam.

Namun, kondisi lingkungan di sekitar habitat tersebut membuat kestabilan aliran sungai menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan.

Jika terjadi luapan besar dan air masuk ke kawasan nesting ground, kondisi tersebut dikhawatirkan dapat mengganggu lokasi bertelur Maleo serta ekosistem di sekitarnya.

Ketua LPKD Pakuli Utara, Ringgi, mengatakan perlindungan habitat Maleo tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga kondisi lingkungan di sekitar kawasan konservasi.

Menurutnya, keberadaan nesting ground tersebut merupakan aset penting yang selama ini dijaga dan dikelola masyarakat desa.

LIHAT JUGA  Kejari Sigi Ajukan Plea Bargain, Disetujui Jampidum Kejaksaan Agung

Minta BWS Sulawesi III Segera Bertindak

Untuk mengantisipasi risiko tersebut, Pemerintah Kecamatan Gumbasa bersama LPKD Pakuli Utara mendorong adanya langkah penanganan terhadap material yang menyumbat aliran sungai.

Camat Gumbasa Afif Sunusi menyatakan pihak kecamatan akan berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi III agar kondisi tersebut dapat segera mendapat perhatian.

Normalisasi dan pembersihan material pada titik-titik yang dinilai menghambat aliran sungai diharapkan dapat dilakukan sebelum terjadi peningkatan debit air yang berpotensi menimbulkan luapan.

Selain pembersihan kayu dan material, pemerintah kecamatan bersama pengelola konservasi juga berharap adanya penanganan jangka panjang, termasuk pemeliharaan infrastruktur sungai secara berkala.

Langkah teknis seperti penggunaan alat berat maupun pembangunan infrastruktur pengamanan aliran, apabila dinilai diperlukan berdasarkan kajian teknis, juga diharapkan dapat menjadi bagian dari solusi.

Keselamatan Warga dan Konservasi Berjalan Bersama

Penanganan Sungai Gumbasa di wilayah Pakuli Utara dinilai tidak hanya berkaitan dengan persoalan infrastruktur pengendali aliran air.

Di sisi lain, terdapat kepentingan menjaga kawasan konservasi dan habitat satwa endemik yang selama ini dikelola masyarakat.

LIHAT JUGA  Kejati Sulteng dan Pelindo Regional 4 Perkuat Kerja Sama Penanganan Hukum Perdata dan TUN

Karena itu, normalisasi sungai diharapkan dapat dilakukan dengan tetap memperhatikan aspek lingkungan sehingga upaya mengurangi risiko banjir bagi masyarakat dapat berjalan beriringan dengan perlindungan habitat Maleo.

Pemerintah Kecamatan Gumbasa bersama LPKD Pakuli Utara berharap koordinasi dengan BWS Sulawesi III dapat menghasilkan langkah konkret untuk menangani tumpukan material dan menjaga fungsi aliran Sungai Gumbasa.

Bagi masyarakat Pakuli Utara, penanganan tersebut menjadi penting untuk menghadapi potensi peningkatan debit air sekaligus menjaga kawasan konservasi Maleo yang telah dirawat masyarakat selama ini.

(Hasan Tura)