Dedikasi Tanpa Pamrih, Anggota LPKD Pakuli Utara Setia Jaga Kelestarian Burung Maleo

​SIGI – Langkah kaki Pak Afit dan Pak Husain menyusuri pasir panas di Desa Pakuli Utara, Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi, bukan sekadar rutinitas harian, melainkan wujud nyata cinta yang mendalam pada alam.

​Di bawah naungan Lembaga Pengelola Konservasi Desa (LPKD) Pakuli Utara yang diketuai oleh Ringgi sejak delapan tahun lalu, mereka berkomitmen penuh mengabdikan diri demi menjaga dan melestarikan burung maleo.

Bagi mereka, satwa endemik ini merupakan kekayaan istimewa ciptaan Allah yang tidak dapat ditemukan di belahan bumi mana pun selain di Sulawesi.

​”Bagaimanapun caranya, keberadaan burung maleo ini harus terus kita jaga dan lestarikan,” tegas Afit dan Husain saat ditemui di sela-sela kegiatan mereka 07/09/2027

​Di bawah terik matahari yang menyengat kulit dan keheningan hutan kawasan bentang alam Lore Lindu yang rindang, kedua anggota LPKD ini mendedikasikan waktu serta tenaga secara sukarela dan penuh keikhlasan demi menjaga kelangsungan hidup burung maleo (Macrocephalon maleo), satwa endemik Sulawesi yang kian terancam punah.

LIHAT JUGA  Media Online Interkini.co Berbagi di Haul ke-5 Habib Saggaf, Rawat Nilai Kemanfaatan

​Bagi mereka, nesting ground atau lokasi peneluran maleo adalah titipan masa depan yang harus dijaga ketat dari berbagai macam gangguan.

Tanpa lelah, kedua pejuang konservasi lokal ini rutin memantau sarang-sarang alami demi memastikan telur-telur maleo aman dari ancaman predator maupun gangguan aktivitas manusia, hingga anak-anak burung tersebut menetas dan terbang bebas ke alam liar.

​Medan yang dipenuhi semak belukar serta paparan panas bumi tempat penimbunan telur tak sedikit pun menyurutkan semangat juang keduanya untuk terus mengontrol wilayah tersebut setiap harinya.

​Kehadiran Pak Afit dan Pak Husain di lapangan menjadi garda terdepan dalam meredam ancaman perburuan liar serta pengambilan telur secara ilegal yang kerap membayangi populasi satwa dilindungi ini.

Lewat patroli mandiri yang digelar berkala, mereka mengidentifikasi setiap lubang peneluran, mencatat dinamika kondisi sekitar, hingga memastikan suhu tanah panas bumi tempat pengeraman alami tetap stabil dan kondusif bagi proses penetasan.

​Ketulusan Pak Afit dan Pak Husain membuktikan bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak selalu lahir dari teori-teori rumit di dalam kelas.

LIHAT JUGA  Menjaga Maleo dari Desa Pakuli Utara, 533 Anakan Berhasil Dikembalikan ke Habitatnya

Aksi nyata ini justru terpancar dari langkah kaki yang setia serta kesabaran merawat bumi demi keterpeliharaan ekosistem setempat.

Hutan dan segala isinya adalah rumah bersama yang keasriannya harus terus dipertahankan, mengingat burung maleo memainkan peran ekologis penting dalam rantai makanan dan keseimbangan hayati Sulawesi.

​Melalui pendekatan berbasis masyarakat yang dijalankan LPKD Pakuli Utara, aksi ini sekaligus menjadi sarana edukasi bagi warga sekitar agar tumbuh rasa memiliki terhadap kekayaan fauna lokal.

Langkah mandiri ini menepis anggapan bahwa upaya konservasi hanya bergantung pada instansi formal, melainkan dapat dimulai dari inisiatif akar rumput yang digerakkan oleh nurani, jelas mereka berdua.

​Kisah dari Pakuli Utara ini membawa pesan mendalam bagi masyarakat luas—mulai dari anak-anak hingga orang dewasa—bahwa kelestarian alam merupakan tanggung jawab bersama.

Siapa pun dan di mana pun berada, setiap individu dapat mengambil peran untuk menjaga lingkungan sekitar, karena apa yang dirawat hari ini akan menjadi napas bagi kehidupan di masa depan, kata Afit dan Husain.

LIHAT JUGA  BlackEagle Hadir di Morowali, Bawa Konsep Pengamanan Profesional dan Berbasis Kearifan Lokal

Keteladanan Pak Afit dan Pak Husain menjadi cermin nyata bahwa dedikasi sederhana di tengah hutan mampu memberi dampak besar bagi keberlangsungan keanekaragaman hayati Indonesia.

(Hasan Tura)