Harga Pakan Melambung, Pasangan Legislator Sulteng Racik Pakan Ikan Berbahan Lokal

SIGI – Kenaikan harga pakan pabrikan atau pelet yang terus membebani biaya produksi budidaya ikan mendorong lahirnya inovasi sederhana namun bermanfaat. Pasangan suami istri yang juga anggota legislatif, Niko Biro Alo dan Sumi, meracik pakan ikan alternatif berbahan lokal sebagai solusi untuk membantu para pembudidaya menekan biaya produksi.

Inisiatif tersebut dilakukan di kediaman mereka di Kabupaten Sigi, Rabu (29/7/2026). Di sela kesibukan menjalankan tugas sebagai wakil rakyat, keduanya memanfaatkan waktu luang untuk memproduksi pakan ikan fermentasi dengan memanfaatkan bahan-bahan yang mudah diperoleh di sekitar masyarakat.

Niko Biro Alo, Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tengah dari Fraksi PDI Perjuangan, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari usaha yang rutin mereka lakukan setelah menyelesaikan aktivitas kedinasan.

“Usaha ini merupakan kesibukan kami sepulang dari aktivitas kantor,” ujar Niko.

Menurutnya, pakan alternatif tersebut dibuat dari campuran dedak (katul), ampas tahu, jagung, air gula tebu, serta EM4 sebagai bahan fermentasi. Seluruh proses pembuatannya juga didampingi tenaga yang berpengalaman agar kualitas pakan tetap terjaga.

LIHAT JUGA  IJTI Sulteng Kecam Eks Direktur RSUD Undata yang Diduga Hina Jurnalis

“Pembuatan fermentasi pakan ini kami dibantu oleh tenaga yang sudah profesional,” katanya.

Niko menjelaskan, pemanfaatan bahan baku lokal tidak hanya bertujuan menekan biaya produksi, tetapi juga memanfaatkan limbah hasil pertanian dan industri rumahan yang masih memiliki nilai ekonomi.

Melalui proses fermentasi, pakan yang dihasilkan diharapkan memiliki kandungan nutrisi yang baik, lebih mudah dicerna ikan nila, sekaligus mampu mengurangi ketergantungan pembudidaya terhadap pakan pabrikan yang harganya terus meningkat.

Sementara itu, Sumi yang merupakan Anggota DPRD Kabupaten Sigi mengatakan, inovasi tersebut menjadi bentuk kepedulian mereka terhadap para pembudidaya ikan yang menghadapi tingginya biaya operasional.

“Sebagai perwakilan masyarakat, kami ingin memberikan contoh bahwa ada solusi untuk mengurangi biaya produksi budidaya ikan. Dengan memanfaatkan bahan-bahan lokal yang mudah diperoleh, pembudidaya bisa lebih mandiri tanpa mengurangi kualitas pakan,” ujarnya.

Menurut Sumi, ketahanan pangan tidak hanya dibangun melalui kebijakan pemerintah, tetapi juga dapat diwujudkan melalui inovasi sederhana yang lahir dari masyarakat dan memanfaatkan potensi lokal.

Ia berharap pakan ikan fermentasi berbahan lokal tersebut dapat menjadi inspirasi bagi para pembudidaya ikan di Sulawesi Tengah, khususnya di Kabupaten Sigi, agar tetap produktif, lebih efisien, dan mampu meningkatkan pendapatan meski di tengah fluktuasi harga pakan komersial.

LIHAT JUGA  Dukung Inovasi “Pakagali Pakagaya Ngata”, Puskesmas Pandere Gelar Kerja Bakti Massal