oleh

Usut Kasus Dugaan Korupsi Jembatan IV Palu, Akhirnya Kejati Sulteng Tetapkan Tiga Tersangka Awal

PALU – Akhirnya institusi Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tengah (Kejati Sulteng) telah menetapkan 3 (tiga) orang tersangka awal dalam penanganan perkara kasus dugaan tindak pidana korupsi pembayaran eskalasi (utang) jembatan IV Palu.

Tiga orang yang ditetapkan tersangka tersebut berinisial ID, D, dan NMR. Ketiganya berdasarkan alat bukti yang ada, telah memenuhi bukti permulaan yang cukup terjadinya tindak pidana korupsi yang dilakukan secara-sama.

Dalam konfrensi Pers yang berlangsung diruang Aula Kejati Sulteng, Rabu (26/8/2020), Kepala Kejati (Kajati) Sulteng Gery Yasid SH.MH melalui Asisten tindak Pidana Khusus (Aspidsus) Edwar Malau SH.MH didampingi Izanzam, SH MH (Aspidum), Dr. Ahmad Hajar, SH. MH (Kodinator tim), Rahmat Supriyadi, SH. MH (Asintel) dan Inti Astuti SH (Kasipenkum) membeberkan bahwa penetapan tersangka atas penyidikan yang telah dilakukan berdasarkan Surat Perintah Penyidikan Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tengah.

Nomor Print- 01/P.2/Fd.1/06/2020 tanggal 15 juni 2020 tentang Dugaan Tindak Pidana Korupsi Pembayaran Biaya Eskalasi oleh Pemerintah Kota Palu Kepada PT Global Daya Manunggal (Rekanan/Kontraktor Pelaksana Pembangunan Jembatan lV atau Jembatan Ponulele TA 2003-2007).

Bahwa telah ditemukan alat bukti yang cukup terjadinya tindak pidana korupsi secara bersama-sama melakukan duplikasi pembayaran terhadap item pekerjaan tambah sekitar Rp 1.750.000.000,- (Satu Milyar tujuh ratus lima puluh juta rupiah) dan pembayaran penyesuaian harga (eskalasi) secara tidak sah sebesar Rp.12.000.000.000,- (dua belas milyar rupiah).

“Pembayaran penyesuaian harga secara tidak sah tersebut karena dilakukan tanpa review dari APIP seperti BPKP, pembayaran seharusnya dilakukan pada tahun 2007, serta tidak terjadi ketidakstabilan harga, sehingga mekanisme penyelesaian sengketa melalui BANI merupakan sarana untuk menerima pembayaran dari anggaran negara secara tidak sah dan merugikan keuangan negara sekitar Rp.14.507.519.000,- (empat belas milyar lima ratus tujuh juta lima ratus Sembilan belas ribu rupiah),” kata Edwar Malau.

News Feed