Petani : Apa Yang Mau Ditanam Kalau Bibit Tiba Sudah Rusak..!!!

Penyedia Bibit dan Kadis Pertanian Enggan Komentar

Bahanaindonesia.com – Setelah beberapa kali pemberitaan tentang tersalurnya bibit bawang putih yang tak lagi layak tanam di Kabupaten Sigi, Kecamatan Marawola Barat, tepatnya di Desa Dombu, pada bulan November 2021 lalu, pihak penyedia bibit putih (penangkar, red) yakni KT Pusuk Pujata yang berada di Desa Sembalun Bumbung, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat, pada Rabu (12/01) kemarin, kembali berkunjung ke wilayah Provinsi Sulawesi Tengah, tepatnya di Kabupaten Sigi.

Eggy, selaku pimpinan KT Pusuk Pujata, kepada Media Bahana Indonesia mengatakan, pihaknya telah kembali mengutus orang (Niko, red) untuk memberikan klarifikasi atas masalah tersebut.

“Sudah bertemu dengan Kadis, DPRD dan pejabat terkait. Sudah dilakukan klarifikasi dan ikut serta ke lokasi petani yang menanam bawang putih. Jika belum jelas, monggo dihubungi beliau atau dinas terkait,” jawab Egy via WhatsUppnya Rabu sore kemarin.

Secara pisah, Niko utusan dari KT Pusuk Pujata, pada Rabu kemarin, sempat menghubungi Bahana Indonesia, guna menyampaikan maksud dan tujuan atas kedatangannya kembali lagi ke Kabupaten Sigi.

LIHAT JUGA  Rekrutmen Polri 2026 di Sulteng Dikawal Ketat, Kapolda Tegaskan Anti Calo dan Titip Nama

“Saya ada di Palu Bang, untuk klarifikasi dari produsen benih,” ucapnya singkat dari balik chat WhatssUppnya.

Dijelaskannya pada Rabu kemarin, dirinya sudah kembali berkunjung ke petani langsung atas persoalan bibit rusak tersebut. Menurutnya tidak sesuai dengan fakta di lapangan yang ada.

“Ya di Dombu saya sudah diskusi sama Kadis Sigi pak Ikbal dan anggota DPRD Sigi Komisi 2. Silahkan konfirmasi ke Dinas lagi pak. Sudah kami klarifikasi sesuai fakta lapangan kepada pihak yang mengurusi masalah pertanian.

“Saya pun ke atas untuk mempresentasikan cara menanam bawang putih yang benar. Penyebab kerusakan bawang putih banyak faktor yang mempengaruhi, salah satunya karena salah penanganan,” tutur Niko dalam beberapa chat WhatsUppnya yang kami rangkum pada Rabu kemarin. Namun sebelumnya, Niko telah mengakui ada keterlambatan pengiriman atas bibit itu.

Mirisnya, saat ditanyai tentang fakta di lapangan atas petani yang tergabung dalam Kelompok Tani (Poktan) Selaras Alam di Desa Dombu, Niko enggan untuk memberikan komentar.

Hingga berita ini tayang, Media Bahana Indonesia, belum mendapatkan informasi dari pihak Dinas Pertanian Sigi dan juga pihak DPRD Kabupaten Sigi atas hasil peninjauan kembali yang dilakukan kepada para petani, sesuai dengan apa yang disampaikan oleh pihak KT Pusuk Pujata.

LIHAT JUGA  Polda Sulteng Peringkat 16 Nasional, Evaluasi IKPA Terus Diperkuat

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikuktura dan Perkebunan Kabupaten Sigi, Moh Ikbal S Aly Sp Mp yang dikonfirmasi via WhatsUppnya enggan untuk memberikan komentar. Dari balik ponsel whatsUppnya, hanya terbaca namun tak dibalas.

Hal yang sama pun oleh Umar, selaku pihak DPRD Kabupaten Sigi, Komisi II.

Namun demikian, pada Selasa (11/01) baru baru ini, Media Bahana Indonesia yang melakukan pengecekan secara langsung kepada para petani penerima bawang yang dimaksud, mendapati informasi yang berbeda dari salah seorang petani.

Pither (58), yang merupakan koordinator dari Kelompok Tani (Poktan) Selaras Alam di Desa Dombu, mengungkapkan, sebanyak 7 Ton bantuan yang diterima oleh Kelompoknya, sejak tersalur pada November 2021 lalu, sudah banyak yang rusak. Namun mereka (Petani, red) tak sempat melakukan pengecekan, karena kedatangan bibit yang secara tiba tiba di malam hari.

“Apa yang mau ditanam pak?, bibit yang kami terima sudah kempis (kering,red). Dari pertama kami terima, kondisi bibitnya sudah seperti ini,” kata pria paruh baya tersebut saat ditemui langsung di kediamannya di Desa Dombu pada Selasa (11/01) siang kemarin.

LIHAT JUGA  Kapolres Banggai Ingatkan Bhayangkari Hidup Sederhana dan Jauhi Hedonisme

Untuk diketahui, pengadaan bibit bantuan bawang putih tersebut, diberikan kepada lima Poktan yang ada di wilayah Kabupaten Sigi, dengan jumlah total sebanyak 35 Ton. Setiap Poktan, mendapat jatah 7 Ton, termasuk satu diantaranya adalah Poktan Selaras Alam yang dikoordinir oleh Pither.

(Hasan Tura / Editor : Adrian Yuliansyah)