oleh

Kerjakan Mega Proyek Sekolah di Sulteng, Ternyata Begini Kendala PT SMI di Lapangan

PALU – Pelaksana kegiatan (Kontraktor) mega proyek pembangunan 19 (sembilan belas) unit Sekolah baru diwilayah Kota Palu dan Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, PT Sentra Multikarya Infrastruktur (SMI) mengaku akan menyelesaikan pekerjaan yang dilaksanakannya sesuai kontrak yang telah ditentukan.

Meskipun akan diberlakukan denda nantinya jika terkendala, namun pihaknya sangat optimis bakal menyelesaikan pembangunan 19 proyek Sekolah tersebut hingga berakhirnya kontrak pada April mendatang. Hal ini disampaikan Philip selaku Direktur utama PT SMI, saat ditemui dikantor kontrakannya di Palu pada Senin (8/2).

“Sebagai bentuk komitmen kami, kemarin sudah buatkan kesepakatan dan pernyataan pak dengan sejumlah mandor lokal yang mengerjakan kegiatan. Jika tidak tercapai sesuai scedul yang kita sesuaikan mereka akan kita denda,” kata Philips.

Ia juga menyebutkan saat ini telah mempersiapkan tenaga pekerja diluar Sulteng untuk berkerja maksimal, menyelesaiakan pekerjaan yang terkendala.

“Saat ini kami juga telah melibatkan tenaga kerja dari Jawa untuk menyelesaikan beberapa kegiatan yang terlambat,” jelas Philip didampingi sejumlah stafnya.

Philip juga menyampaikan bahwa sejak melakukan kegiatan dilokasi proyek pihaknya mengalami beberapa kendala diantaranya, kehilangan sejumlah material bangunan, dan bahkan keluhnya, ada bangunan risain yang sementara dibangun dibongkar dan bahan material besinya diambil oleh pihak – pihak yang tidak diketahuinya.

“Kami juga sudah laporkan kepada pihak kepolisian sektor Palu selatan pada 28 Januari 2021, karena paling banyak hilang di lokasi Petobo, terus di bobo juga moleng hilang, di lokasi walisongo besinya sampai dibongkar bangunan resain dan beberapa lokasi lainnya.

Hal ini terjadi sejak 2020 lalu – hingga Januari 2021 kendala ini kami alami,” keluh Philip dan stafnya sambil memperlihatkan gambar lokasi yang dikerjakan.

Ditanya soal adanya tawaran upah yang rendah kepada pekerja lokal, Philip menyatakan jika harga yang diberikan sudah sesuai karena harga borongan.

“Kalau masalah kesepakatan upah kami sudah rembukan minggu lalu untuk perubahan harga baru, harga itu sangat cantik namun belum ditandatangani oleh beberapa mandor,” ucapnya.

“Sehingga untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang masih lambat, kami juga sudah siapkan tenaga kerja dari jawa sekitar 100 orang dan saat ini sudah ada di lokasi 2 tim sekarang,” terangnya.

Philip juga menyebutkan dari 19 kegiatan, masih ada satu lokasi yang masih menunggu karena masuk dalam zona merah, sehingga fokus kerjanya 18 unit. Selain itu ada juga lahannya baru serah terima bulan Desember 2020 kemarin, katanya lagi.

Ditanya soal lokasi MIS Alkhairaat Desa Bangga yang terbengkalai, ia mengaku baru mengetahui karena dirinya baru tiba di Palu 2 minggu yang lalu.

“Kalau di Desa Bangga kendalanya sehingga terlambat, karena sosial masyarakatnya pak, memang agak ribet. Karena sebagian bahan material yang kami masukan ditahan, jadi material yang masuk harus dari Fendor lokal. Pokoknya kita tidak boleh masukan material dari luar padahal harganya tidak masuk dengan harga kita.

“Pekerjanya pun padahal sudah orang lokal tapi kendalanya lagi, sekecil apapun acara didesa itu seperti acara akikah, pasti bakalan tidak ada yang kerja sampai 1 minggu, sehingga pembangunan MIS Alkhairat di Bangga terkendala,” jelas staf perempuan yang mendampingi Philip.

Namun selaku penanggungjawab Philip berjanji akan berusaha mencari solusi agar pelaksanaan pembangunan sekolah tersebut nantinya dapat terlaksana dan selesai sesuai perpanjangan waktu yang ada.

Diberitakan sebelumnya, dari 19 unit sekolah, ada 7 unit sekolah yang dikerjakan PT SMI yang terindikasi mengalami keterlambatan sehingga berujung perpanjangan kontrak hingga April 2021. Salah satunya adalah pembangunan MIS Alkhairat Desa Bangga Kabupaten Sigi, yang dibiarkan terbengkalai sejak 2020 lalu – Februari 2021.

Diketahui pekerjaan Mega Proyek ini mencakup 19 (sembilan belas) unit Sekolah yang tersebar diwilayah Kabupaten Sigi dan Kota Palu. Proyek ini bersumber dari dana bantuan Bank Dunia dengan anggaran sebesar Rp 37.413.102.000.00, (tiga puluh tujuh miliar empat ratus tiga belas juta seratus dua ribu rupiah). Tertera dengan Nomor kontrak ; HK.02.01/KONT/SPPP.ST/PSPPOPI/02/2020.

Tanggal kontrak mulai 5 Juni 2020, dengan waktu pelaksanaan 210 hari kalender. Melalui Direktorat Jenderal Cipta Karya Balai Prasarana Permukiman Wilayah Sulawesi Tengah.

(BI)

News Feed