Kabalai BP2P Sulawesi 2 : Pembangunan Huntap 1B Capai 50 Persen, Kendalanya Begini

PALU – Keterlambatan pelaksanaan pembangunan tahap 1B Hunian Tetap (Huntap) bagi penyintas bencana di wilayah Sulawesi Tengah kembali menuai sorotan publik.

Pasalnya, pembangunan huntap 1B tersebut dianggap lamban dan bahkan sebagian lokasi yang dicanangkan belum tersentuh sehingga mengakibatkan ribuan penyintas bencana di Sulteng dalam penantian di Hunian Sementara (Huntara).

Sebelumnya, Kementerian PUPR melalui Ditjen perumahan kembali melanjutkan pembangunan huntap tahap 1B sebanyak 1.005 unit untuk penyintas bencana di Kota Palu, Sigi dan Donggala Sulteng.

Adapun anggaran yang dikucurkan untuk pembangunan huntap tahap 1B, sebesar Rp 110 miliar atau tepatnya Rp 110,07 miliar. Penyintas bencana Kota Palu, Sigi dan donggala adalah target utama pembangunan Huntap 1B tersebut.

Menjawab hal itu, Kepala Balai Pelaksana Penyediaan Perumahan (BP2P) Wilayah Sulawesi 2, Ir Suko Wiyono M.Si meminta kepada seluruh pihak untuk bersabar atas penyelesaian pembangunan huntap 1B tersebut.

Suko Wiyono menerangkan, saat ini pekerjaan sementara berjalan, dan telah mencapai progres 50 persen. Bahkan, pihaknya terus menggenjot pelaksana (PT Waskita) agar dapat menyelesaikan proyek ini hingga batas kontrak bulan Juli 2021 mendatang.

LIHAT JUGA  Jelang Nyepi dan Idul Fitri, Kajati Sulteng Ikuti Arahan JAM Intelijen soal Kesiapsiagaan Kejaksaan

“Kontrak kerjanya masih jalan, saat ini total progresnya sudah 50 persen,” jawab Suko Wiyono saat menjawab pertanyaan sejumlah awak media lokal Sulteng, dikantornya, pada Jumat (5/3/).

BACA JUGA : Dikonfirmasi Proyek Huntap 1 B, Kabalai BP2P Sulawesi II, Enggan Berkomentar..?

Suko Wiyono mengatakan terhambatnya pekerjaan tersebut disebabkan adanya beberapa permasalahan. Diantaranya terkait masalah penyedian lahan, data Warga Terdampak Bencana (WTB), Mobilisasi tenaga kerja dan spefikasi material yang harus didatangkan dari luar Kota Palu.

“Seperti contoh di Loli, lahannya ada tapi kurang dan tidak memenuhi kriteria kita, sehingga lahannya harus diperbaiki lagi.