Prof Zainal Abidin: Agama Tak Pernah Mengajarkan Pertengkaran, Ego yang Memicunya

PALU, Bahanaindonesia.com – Di tengah maraknya perdebatan keagamaan yang kerap memicu kegaduhan di ruang publik, Rais Syuriyah PBNU sekaligus tokoh moderasi nasional, Prof Dr KH Zainal Abidin, M.Ag, memberikan pandangan kritis sekaligus menyejukkan.

Menurutnya, agama sejatinya tidak pernah menjadi sumber pertikaian. Konflik yang mengatasnamakan agama justru muncul akibat ketidakmampuan seseorang menguasai ilmu agama secara utuh, sehingga lebih mengedepankan ego daripada kebijaksanaan.

“Orang yang bertengkar dalam hal agama sebenarnya bukan karena ilmu agama atau sebagai ilmuwan agama, tetapi karena tidak menguasai ilmu agama dan mengumbar pendapat seenaknya sendiri,” tulis Prof Zainal dalam sebuah kutipan reflektif.

Guru Besar UIN Datokarama Palu ini menegaskan, perdebatan yang disertai hujatan bukanlah cerminan kedalaman iman, melainkan keinginan agar pendapat pribadi diikuti dan dianggap sebagai kebenaran tunggal.

Untuk memperkuat argumennya, Prof Zainal mengajak publik menengok sejarah intelektual Islam. Ia mencontohkan perbedaan pandangan antara Imam Malik dan muridnya, Imam Syafi’i, mengenai konsep rezeki.

Imam Malik meyakini bahwa rezeki akan datang dengan sendirinya melalui ketakwaan dan tawakal. Sementara Imam Syafi’i berpandangan bahwa rezeki harus dijemput dengan ikhtiar dan kerja nyata. Meski berbeda pandangan, keduanya tidak pernah saling merendahkan atau bertikai.

LIHAT JUGA  Belasan Anak Terlibat Laka Lantas, Polres Sigi Perketat Sosialisasi ke Sekolah

“Mereka menguasai ilmu secara mendalam, sehingga memahami bahwa perbedaan pemahaman adalah rahmat, bukan alasan untuk bertengkar apalagi memutus silaturahmi,” ujar Prof Zainal.

Lebih lanjut, Ketua FKUB Provinsi Sulawesi Tengah ini menilai, kegemaran bertengkar dalam isu agama saat ini disebabkan oleh dangkalnya penguasaan ilmu. Ketika ilmu minim, perbedaan dianggap sebagai ancaman, bukan kekayaan perspektif.

“Agama tidak mengajarkan pertengkaran. Jika ada yang bertengkar, maka yang dikedepankan adalah egonya, bukan ilmunya. Ilmuwan agama yang sejati akan menghadirkan keteduhan, bukan kegaduhan,” tegasnya.

Prof Zainal pun mengingatkan bahwa di era banjir informasi seperti sekarang, semakin luas ilmu seseorang, seharusnya semakin lapang pula sikapnya dalam menyikapi perbedaan pandangan keagamaan.