oleh

Penolakan Omnibuslaw, Ketua FSPNI Berharap Unras Taat Ketentuan Perundangan, dan Tak Mudah Terprovokasi

PALU – Maraknya aksi unjuk rasa (Unras) penolakan RUU Cipta Kerja yang sering disebut Omnibuslaw, secara nasional di berbagai daerah di Indonesia masih menjadi topik yang hangat terus dibicakan.

Tak terkecuali di Kota Palu, Sulawesi Tengah, dampaknya juga sama dengan daerah lain. Para pendemo Unras dari serikat buruh, dan mahasiswa tetap melakukan aksi unjuk rasa. Meski saat ini masa pandemi dilarang berkumpul upaya mencegah penularan Covid-19.

Menanggapi hal ini, pihak Federasi Serikat Pekerja Nasional Indonesia (FSPNI) menanggapi dengan serius agar pendemo tetap memperhatikan protokoler kesehatan Covid 19, dan mengharapkan pendemo agar taat terhadap peraturan yang berlaku dalam menyampaikan aspirasi serta tidak mudah terprovokasi oleh oknum – oknum yang tidak bertanggungjwab yang dapat menyebabkan keresahan dan tindakan anarkis.

Ketua FSPNI Provinsi Sulteng, Lukius Todama SE, kepada tim Pena Sulteng mengatakan buruh, mahasiswa, dan elemen lainya yang menanggapi RUU Cipta Kerja dikenal Omnibuslaw, tetap diresponnya melakukan penolakan.

“Silahkan menyuarakan aspirasi kebebasan dituangkan UU 1945, tetapi ingat masa pandemi, menjaga protokoler kesehatan, sebab jangan sampai kita bisa tertular hingga ke saudara lainnya di rumah,” unggkap Luki sapaannya, yang kini tetap eksis sebagai aktivis buruh di Sulteng itu.

Luki, pria flamboyant kelahiran Morowali ini menegaskan dalam menanggapi Omnibuslaw ini tetap sopan santun, dan diupayakan tidak terjadi misskomunikasi di lapangan apalagi ada sentuhan fisik.

Kata dia, dengan aksi damai tanpa melanggar undang-udang dalam menyampaikan aspirasi, maka menjaga keutuhan negara kesatuan republik indonesia (NKRI).

Luki juga mengimbau agar pendemo baik buruh dan mahasiswa untuk tetap solid menyampaikan aspirasi sesuai ketentuan perundangan dan tidak mudah terprovokasi oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab yang menimbulkan keresahan dan tindakan anarkis.

“Sekali lagi hindari anarkis demi menjaga daerah tetap kondusif,”

“Mari kita menciptakan kedamaian, sebab menjaga daerah khususnya kita di Palu tetap kondusif sebagai upaya mencegah Covid-19,” ungkapnya lagi.
Menurutnya, aksi damai dari beberapa aliansi dan mahasiswa harus tetap menjaga jarak seperti distanting agar tidak benturan.

Setiap orang memang berhak menyampaikan aspirasi, meski RUU Cipta Karya dinilai merugikan pekerja ada beberapa poin dikurangi termasuk pesangon dan kontrak yang tidak punya hukum tetap.

“Tetapi aksi damai ini tetap mengikuti aturan protokoler Covid-19, sehingga daerah kita Palu tetap aman di masa Pandemik ini,” pungkasnya.

(Sumber : Pena Sulteng)

News Feed