oleh

Modus Potongan Liar Dana Stimulan “Merajelela” di Wilayah Sigi

SIGI – Pencairan dana stimulan korban gempa tahun 2018 lalu, di beberapa daerah di Sulawesi Tengah (Sulteng), khususnya di daerah terdampak, Palu, Sigi dan Donggala, terus saja dilakukan.

Namun, kuat dugaan, masih saja ada oknum yang mengambil keuntungan atas penderitaan warga terdampak bencana

Seperti yang dialami oleh Kel. Alber Wangko, salah seorang warga Desa Palamaki, Kecamatan Kulawi Selatan, Kabupaten Sigi. Velni istri Alber wangko mengungkapkan bahwa dirinya mendapat bantuan perbaikan rumah pasca gempa. Dana perbaikan (stimulan, red) diterimanya pada Sabtu, 4 Juli 2020 beberapa waktu lalu.

“Proses pencairannya dilakukan via mobile bank. Waktu itu hari Sabtu. Selain saya, Anry (40) juga menerima bantuan dana stimulan. Kami menerima bantuan sebanyak Rp 25 juta.

Sehari setelahnya, dirinya didatangi oleh Sutrisno (salah seorang warga,red), datang meminta uang sebesar Rp 250 ribu,” ungkap Velni saat ditemui wartawan media Bahanaindonesia.com di kediaman Kades Palamaki Kamis (9/7) Siang Pukul 13: 00 Wita.

Velni menambahkan, bahwa dana itu diserahkannya secara langsung kepada Sutrisno. Untuk diketahui, Sutrisno adalah salah seorang warga Desa Palamaki Kecamatan Kulawi Selatan yang juga merupakan penerima bantuan dana stimulan. Namun oleh Tim Pendamping, Sutrisno diduga diminta menjadi perpanjangan tangan untuk memungut uang kepada para penerima bantuan tersebut.

“Kami sempat meminta penjelasan dari Sutrisno. Jadi dari penjelasannya, pungutan uang itu katanya diserahkan kepada tim pendamping sebagai biaya pembuatan pelaporan pertanggungjawaban dan biaya FND beserta delapan orang rekannya yang menginap di rumah Sutrisno, jadi makanya dia (Sutrisno, red) yang ditugaskan untuk mendatangi tiap warga yang menerima bantuan,” beber Velni panjang lebar.

Pungutan itupun dibenarkan oleh Anry yang juga merupakan warga penerima dana bantuan tersebut. Senada dengan yang diungkapkan oleh Velni, dirinya juga mengakui bahwa dana yang diterimanya juga dimintai biaya sebesar 1 % (Rp 250 ribu).

Berdasarkan pengakuan dua warga tersebut, awak Bahanaindonesia.com pun lalu menemui Kepala Desa (Kades) Palamaki, Victor Roy. Ironisnya, sebagai Kades, dirinya mengaku tidak tahu menahu atas tindakan yang dilakukan oleh Sutrisno yang mengatas namakan tim pendamping.

“FND selaku koordinator tim pendamping, tidak pernah menyampaikan hal itu kepada saya sebelumnya. Saya hanya mendapat laporan dari masyarakat. Dan setelah saya kroscek kepada warga, ternyata memang betul ada pungutan sebanyak itu,” aku Viktor dengan kesal.

Menurutnya, jumlah penerima bantuan dengan kategori rusak sedang di daerahnya berjumlah sebanyak tujuh (7) Kepala Keluarga (KK) sedangkan untuk penerima rusak ringan berjumlah dua belas (12) KK.

Artinya, dapat diakumulasikan, jumlah dugaan pungutan liar tersebut berkisar Rp 2.950.000,- ribu.

(Hsn)

News Feed