oleh

Leasing Rampas Kendaraan di Jalan,  Polres Parimo Tidak Temukan Pidana

PARIMO SULTENG- Ungkapkan rasa kecewa Atnan Palahuata atas penyelidikan yang dilakukan oleh Pihak Polres Parimo, Terkait dengan kasus yang telah di laporkan pada Kantor Polres Parimo dengan Laporan Polisi Nomor: LP. B/01/ Res I.I/ 2020 /Sulteng/ Res Parimo. Tanggal 04/01/2020. Dalam waktu dekat Atnan akan laporkan kembali kasus perampasan mobil keluarganya (Kakaknya) ke Kantor Polda Sulteng atau Kejaksaan tinggi.

Berikut penuturan Atnan Palahuata pada wartawan dalam relesnya Rabu 5 Februari 2020. Sekitar pukul 3.30 wita tepatnya di jalan poros Desa Tabolo Kecamatan Ongka Malino Kabupaten Parimo, tiba tiba se kelompok preman langsung menghadang mobil dam truk milik kaka saya Tamsil Palahuata.Tanpa basa basi pelaku yang berjumlah sekitar 10 orang tersebut. Sala satu dari mereka langsung merampas kunci mobik dan menarik Madin (sopir) sambil meminta pada Madin untuk menandatangani dua lembar kertas.

” Namun sebelum Madin menandatangani kertas tersebut, Madin masih menawarkan pada pelaku untuk menghubungi pemilik mobil atu membicarakan hal itu di rumah, namun tak satu pun yang mengindahkan tawaran Sopir Dam Truk tersebut,
Dan setelah dua lembar kertas tersebut ditandatangani, satu lembar di serahkan pada sopir, dan pelaku bergegas kabur dengan membawah Mobil dam truk tersebut, kata Atnan.

Atas kejadian tersebut Atnan Palahuata langsung menghubungi kakak nya Tamsil Palahuata, sontak Tamsil Palahuata sebagai debitur yang juga sebagai karyawan pada PT. Hasjrat Muktifinance terkejut mendengar kejadian tersebut.

Menurutnya, sampai saat ini (04/01) saya belum mendapat informasi kalau ada penarikan unit saya, dan setahu saya, kalau mereka (pelaku) leasing resmi tentunya paham dan tau SoP dalam melakukan eksekusi kendaraan berdasarkan uu fidusia, dan harus terpenuhi unsur sebagai berikut, harus ada pemberitahuan atau bertemu dengan debitur, membawah surat tugas/SK pada saat eksekusi, membawah sertifikat fidusia, dan membawah Surat Pemberitahuan (SP) 1.2 dan 3. Kesemuanya itu tidak ada di sampaikan ke saya sebagai debitur. Olehnya saya meminta kepada adik saya Atnan untuk segerah melaporkan hal ini pada pihak Polres Parimo.

“Berdasarkan fakta dan keterangan saksi pelapor, atnan merasa penyidik menyampingkan bukti dan fakta yang terjadi di TKP. Pasalnya bila melihat SP2HP patut diduga penyidik kurang profesional dalam melakukan penyelidikan,”  kata Atnan yang juga awak disalah satu media di Sulteng.

Betapa tidak sambungnya,salah satu pelaku dinyatakan adalah pihak leasing internal PT. Hasjrat Multifinance dan dibuktikan dengan SK. Hal ini sangat bertentangan dengan fakta pada saat kejadian di TKP, yang mana tidak satu pun pelaku memperlihatkan SK maupun dokumen lainnya, di samping itu, ada konfirmasi kami dengan oknum leasing internal PT. Hasjrat Muktifinance, yang mana yang bersangkutan membantah melakukan eksekusi kenderaan tersebut, menurutnya yang melakukan eksekusi adalah M.Zul dan kawan kawan yang terima uang jasa penarikan sebesar Rp13 juta. Dari M. Zul, saya hanya di berikan Rp 300 ribu rupiah, ungkap Atnan dalam relesnya.

Diketahui, dalam Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan (SP2HP) tertanggal  24 Januari 2020 dengan nomor : SP2HP/15/1/2020/ sat rekstrim yang ditanda tangani Inspektur Polisi Satu Sigit Suhartanto SIK selaku Kasat Rekstrim Polres Parimo disampaikan bahwa, pada kamis tanggal 23 Januari 2020 Penyidik telah melakukan gelar perkara sehubungan dengan dugaan tindak pidana yang di laporkan.

Pada point (b) disampaikan bahwa pada gelar perkara yang telah dilakukan tidak dapat ditingkatkan ke proses selanjutnya karena bukan tindak pidana. Pada point (c) dituliskan bahwa berdasarkan gelar perkara penyelidikan yang telah dilaporkan Atnan, dilakukan proses penghentian penyelidikan karena perkara yang dilaporkan bukan tindak pidana dan dianjurkan untuk menempuh jalur hukum yang lain.

Selain SP2HP, pelapor Atnan juga telah mengantongi Surat Penghentian Penyelidikan atas kasus yang dilaporkannya.

(Redaksi)

 

News Feed