oleh

Kejari Buol Sibuk Tetapkan Tersangka Kelas “Teri” Tak Punya Gaya Cengkram Untuk Kelas “Kakap”

BUOL, BAHANA INDONESIA – Pekerjaan pembangunan Masjid Raya Buol yang sudah masuk tahun kelima, telah menghabiskan anggaran puluhan miliaran rupiah kini bermasalah. Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Buol baru saja menetapkan tiga tersangka korupsi atas pelaksanaan pekerjaan pembangunan tahap III tahun 2017 dengan nilai Rp 1,7 miliar.

Penetapan 3 tesangka dalam kasus tersebut masih meninggalkan pertanyaan besar bagi masyarakat buol, pasalnya ketiga tersangka tersebut yang di tetapkan Kejaksaan itu hanyalah Kelas Teri sementara Kelas Kakapnya terkesan justru terlindungi.

Jhony Hatimura selaku tokoh politik dalam keterangan persnya Jumat 20/7/2019, mengatakan pemberantasan korupsi senantiasa menghadapi jalan terjal dari waktu ke waktu. Kesulitan itu bukan hanya disebabkan para pelaku korupsi belum juga jera kendati telah banyak koruptor yang tertangkap dan dijatuhi hukuman.

Ganjalan juga muncul dalam upaya mengungkap kasus-kasus korupsi yang melibatkan orang besar, apalagi yang tengah atau pernah berkuasa.

Oleh sebab itu, penegak hukum harus berani untuk menyeret pihak-pihak yang terlibat korupsi hingga orang-orang yang sulit disentuh, agar tidak terkesan lebih kerap menjaring pelaku kelas teri,” Ujarnya.

Jhony menambahkan Kejaksaan seharusnya lebih banyak memelototi siapa yang memiliki kewenangan untuk melakukan pengurangan terhadap penetapan APBD 14 Miliar menjadi 9 Miliar. Wewenang pengelolaan keuangan daerah itu ada pada bupati dan pihak yang memerintah pengurangan anggaran tersebut.

Hal itu sesungguhnya bertentangan dengan Pepres Nomor 4 Tahun 2015 tentang barang dan jasa dalam pasal 52 pekerjaan yg sudah di kontrakan yang pelaksanaan kontraknya mengikat dalam satu anggaran tidak dapat di rubah lagi, serta Pemendagri Nomor 31Tahun 2016 tentang Pedoman Penyusunan APBD.


“Kebijakan yang dilakukan pemda jelas pelanggaran hukum sebab anggaran 14 Miliar dikurangi menjadi 9 Miliar yang telah ter APBD, kemudian pada Tahun 2017 sisa dana tersebut di tenderkan kembali kepada perusahaan yang sama dengan pekerjaan yang sama,” Jelas Jhony.

Meski begitu, keseriusan itu masih harus dibuktikan lebih lanjut dengan membongkar sampai ke para aktor utama. Patut diduga kasus ini merupakan bagian permainan mafia yang sebagian pelakunya masih bebas berkeliaran.

Rakyat sangat berharap, keberanian mengungkap kasus-kasus korupsi kelas kakap tidak lepas dari tekad kerja penegak hukum.

“Saya menduga masih ada aktor-aktor utama lainnya yang belum terjerat,” ungkap Jhony.

Ia menambahkan kegigihan saja tidak cukup. Dengan banyaknya aktor utama yang masih berlindung di balik pengaruh kekuasaan, perlu keberanian untuk menuntaskan kasus-kasus besar tindak pidana korupsi.

Tanpa nyali, kita khawatir aparat yang mendapat mandat memberantas korupsi hanya giat menangkap tangan pelaku kelas teri. Yang penting agar di mata publik terlihat rajin bekerja dengan selalu mendapatkan tangkapan.

“Tentu, kita tidak berharap itu yang bakal terjadi,”. Pungkas Jhony mengakhiri.

(Basri Djulunau)

News Feed