oleh

Kanwil Depag Diduga “Sabotase” Kelulusan Sejumlah Honorer K2

PALU – Sejumlah Honorer K2 dilingkup departemen agama(Depag) merasa ditelantarkan oleh beberapa oknum dilingkungan kantor wilayah Depag provinsi Sulawesi Tengah.

Akibatnya para korban sampai saat ini mempunyai status tidak jelas. Menurut salah seorang korban (honorer K2) yang namanya tidak ingin disebutkan bahwa pada tahun 2013 diadakan tes CPNS K2,dirinya ikut tes. Pada tahun 2014 pengumuman hasil seleksi CPNS K2 dari BAKN namanya tertera dan dinyatakan lulus. Saat itulah mereka dianjurkan untuk perbaikan berkas  di Depag kota Palu.

“Waktu itu saya dan beberapa teman melakukan tahapan pemberkasan yang diminta oleh petugas dilingkup Depag,bahkan sampai 3 kali,”ungkap korban.

Selain berkas, mereka juga sudah dimintakan sejumlah uang oleh oknum dilingkungan tersebut, katanya biaya administrasi dan biaya pemberkasan ke pusat. Singkat pengakuan korban, ternyata dia hingga saat belum mendapatkan SK PNS. Selain dirinya ada sekitar 10 orang temannya yang bernasib sama dengannya.

“Kami selama itu sudah berulangkali ke kanwil Depag untuk mempertanyakan nasib kelulusan kami, karena kami merasa heran kok teman kami dapat SK sementara kami tidak, padahal semua persyaratan telah kami penuhi sama seperti mereka bahkan persyaratan ‘terselubung’ biaya administrasi dan biaya pemberkasan semua kami penuhi,” tambahnya.

Sementara pihak kanwil Depag ketika ditemui langsung oleh sejumlah wartawan menjelaskan bahwa soal beberapa honorer K2 yang tidak dapat SK adalah urusan pusat.

“Kalau masalah yang 11 orang itu adalah kewenangan BAKN pusat, kami hanya sebatas mengusulkan,” ujar Kiflin, Kepala tata usaha kanwil Depag Sulawesi tengah.

Lain halnya Umar Godal, kepala sub.kepegawaian kanwil Depag menjelaskan bahwa ke 11 honorer yang tidak keluar SK nya, 2 orang Islam  karena persoalan persyaratan tidak memenuhi, sementara  9 orang keristen adalah guru TK.

“Ternyata dalam penerimaan itu, guru TK tidak diterima, sehingga mereka tidak bisa dapat SK,” jelas Umar Godal diruangannya.

Tetapi sangat bertentangan dari pengakuan korban, bahwa kebanyakan yang dapat SK adalah dari guru TK.
“Makanya setelah nama kami dinyatakan lulus oleh BAKN, kami diminta untuk memperbaiki berkas yang masih kurang, sama dengan teman yang dapat SK, walau mereka juga dari guru TK,”ungkap korban.

Yang jelas dari hasil wawancara kedua oknum pejabat dilingkungan Depag tersebut masing masing memberikan keterangan yang berbeda. Sejumlah korban masih meyakini kalau berkas mereka tidak sampai ke pusat, dan nama mereka telah digantikan orang lain,atau disabotase.

“Kami hanya ingin persoalan ini diselesaikan dengan baik, karena nasib kami saat ini tidak jelas. Nama kami ada keluar tapi tidak dapat SK, jadi tolong berikan kami solusi, sebab jika tidak maka persoalan ini akan kami laporkan kepihak hukum,”ujar seorang korban lainnya.

Akhirnya sejumlah korban honorer K2 yang saat itu menemui wartawan, sepakat jika dalam waktu tidak lama, seandainya pihak kanwil Depag tidak memberikan solusi/kepastian maka kasus ini akan ditindaklanjuti ketingkat lebih tinggi sampai ada kejelasan status mereka. Dan mereka semua akan membuka rahasia siapa siapa saja oknum yang telah menerima uang.

(Sumber : NP8)

News Feed