Delapan Tahun Jaga Burung Maleo, Pemuda Pakuli Utara Lestarikan Satwa Endemik Sulawesi Secara Swadaya

SIGI, Bahanaindonesia. com – Sekelompok pemuda di Desa Pakuli Utara, Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, selama delapan tahun terakhir secara swadaya menjaga kelestarian burung maleo (Macrocephalon maleo), satwa endemik Sulawesi yang berstatus terancam punah.

Upaya tersebut dilakukan melalui Lembaga Pengelola Konservasi Desa (LPKD) Pakuli Utara yang dibentuk atas inisiatif masyarakat setempat.

Ketua LPKD Pakuli Utara, Ringgi, mengatakan organisasi itu lahir dari kepedulian warga, terutama kalangan pemuda, terhadap kondisi habitat maleo yang terus mengalami tekanan akibat aktivitas manusia.

“Organisasi ini terbentuk atas kesadaran kami sebagai masyarakat dan pemuda. Kami melihat satwa ini semakin terancam karena habitatnya sering dimasuki orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk mengambil telurnya sehingga ekosistemnya ikut rusak,” kata Ringgi.

Menurut dia, LPKD dibentuk untuk menjaga kawasan habitat sekaligus memastikan burung maleo dapat berkembang biak secara alami.

Ringgi mengungkapkan, seluruh kegiatan konservasi yang dijalankan selama ini dilakukan secara mandiri tanpa dukungan pendanaan dari pihak luar.

“Selama ini kami melaksanakan kegiatan tanpa ada donasi dari pihak lain. Namun, kami terus berusaha agar bisa bertahan demi kelestarian burung maleo,” ujarnya.

LIHAT JUGA  Kapolda Sulteng Pimpin Anjangsana Hari Bhayangkara ke 80

Ia menjelaskan, burung maleo merupakan satwa endemik yang hanya dapat ditemukan di Pulau Sulawesi. Karena itu, keberadaan habitatnya dinilai perlu mendapat perlindungan.

Ringgi menyebut pengelolaan kawasan konservasi di Pakuli Utara memiliki karakter berbeda dibandingkan wilayah lain. Jika di sejumlah lokasi konservasi pengelolaan dilakukan bersama pemerintah atau berada di bawah program pemerintah, di Pakuli Utara upaya pelestarian digerakkan sepenuhnya oleh masyarakat.

“Kawasan di Desa Pakuli Utara ini adalah satu-satunya tempat di Sulawesi yang dikelola atas kesadaran masyarakat sendiri, sementara di tempat lain dikelola oleh pemerintah,” katanya.

Menurut Ringgi, konsistensi masyarakat menjaga habitat maleo mulai mendapat perhatian dari berbagai lembaga swadaya masyarakat (LSM) atau organisasi nonpemerintah (NGO).

Dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah NGO datang berkunjung untuk melihat praktik konservasi berbasis masyarakat yang diterapkan di desa tersebut.

Ia berharap upaya pelestarian yang dilakukan warga tidak hanya mampu menjaga populasi burung maleo, tetapi juga menjadikan Desa Pakuli Utara sebagai salah satu kawasan konservasi yang dikenal luas.

LIHAT JUGA  Kejati Sulteng Geledah KSOP Teluk Palu dan Rumah Eks Kepala Bapenda Donggala Terkait Dua Dugaan Korupsi Tambang

“Harapannya, ini bisa menjadi ikon bagi Desa Pakuli Utara, Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah,” kata Ringgi.

(Hasan Tura)